Regenerasi Berhasil: Pemuda Penghafal Al-Qur’an Pimpin Full Salat Tarwih dan Tahajjud di Masjid Ridha Ilahi Selayar

BENTENG, SELAYAR – Masjid Ridha Ilahi di wilayah Kota Benteng, Kepulauan Selayar, menorehkan catatan inspiratif dalam pelaksanaan ibadah Ramadan 1447 H (2026).

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seluruh rangkaian salat Tarwih di masjid ini kini sepenuhnya dipimpin oleh para remaja masjid. Langkah ini merupakan buah manis dari program kaderisasi imam yang telah diintensifkan secara serius sejak Ramadan tahun lalu.

Para imam muda ini bukan sekadar relawan, melainkan para santri dan alumni pondok pesantren ternama, baik dari dalam wilayah Selayar maupun kota-kota besar seperti Makassar, Yogyakarta, hingga Bogor. Kehadiran mereka membuktikan bahwa pemuda lokal memiliki kualitas yang mumpuni untuk mengemban amanah di mihrab.

Profil dan Testimoni Empat Imam Muda
Di barisan depan, terdapat Athaya Aufa R. (19 tahun), yang saat ini tengah menimba ilmu di Madrasah Aliyah Islamic Centre Binbaz, Yogyakarta. Bagi Aufa, mengimami jamaah di tanah kelahiran adalah kesempatan berharga.

“Motivasi saya menjadi imam adalah untuk menambah pengalaman sekaligus menjadi sarana untuk memutqinkan atau memperkuat hafalan Al-Qur’an agar tetap terjaga,” ungkapnya.

Selanjutnya, ada Andi Muhlis Munadil (19 tahun), alumni Madrasah Tahfidzul Qur’an Imam Malik, Makassar. Nadil memandang peran imam sebagai sekolah kepemimpinan yang nyata.

“Menjadi imam mengajarkan saya tentang kepemimpinan dan rasa tanggung jawab yang besar, karena kita memimpin para makmum yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” tuturnya.

Kepercayaan diri juga terpancar dari Muhammad Athayah Fathi Farahat (17 tahun), santri kelas XI di Darul Qur’an Mulia, Bogor. Athayah mengaku pengalamannya sebagai imam membuatnya jauh lebih tenang dalam beribadah.

“Sejak jadi imam, saya merasa lebih percaya diri. Alhamdulillah karena sudah hafal Al-Qur’an, jadi terasa lebih ‘plong’ dan tidak perlu pusing memikirkan teknis saat Tarwih. Kuncinya, selama punya tekad dan kemauan, langsung saja aksi atau praktik,” jelasnya penuh semangat.

Tak kalah inspiratif, Muh. Azzam R. Hadju (17 tahun), alumni Pesantren Babussalam Selayar sekaligus Ketua Remaja Masjid Ridha Ilahi, merasakan dampak perubahan karakter yang besar.

“Dulu jujur saja saya agak malas ke masjid. Namun semenjak diberi kepercayaan menjadi imam, saya menjadi sangat rajin ke masjid. Selain itu, saya pun kini tidak malu-malu lagi jika harus berbicara di depan umum,” aku Azzam.

Pilar Ibadah di 10 Malam Terakhir
Peran para remaja ini tidak berhenti pada salat Tarwih saja. Di sepuluh malam terakhir Ramadan, saat Masjid Ridha Ilahi menggelar kegiatan I’tikaf, keempat imam muda ini juga secara bergantian memimpin salat Tahajjud berjamaah. Mereka mendampingi para peserta I’tikaf yang datang dari berbagai sekolah di Kota Benteng untuk mengejar keutamaan malam Lailatul Qadar.

Pengurus Masjid Ridha Ilahi menyatakan bahwa stok imam yang “full” dari kalangan remaja ini adalah bukti nyata pentingnya memberikan panggung bagi generasi muda. Program ini diharapkan menjadi percontohan bagi masjid lain di Selayar bahwa dengan bimbingan dan kepercayaan, remaja masjid mampu menjadi motor penggerak utama kegiatan keagamaan.

“Kami berterima kasih kepada seluruh jamaah dan donatur yang terus mendukung anak-anak kami. Ini adalah masa depan kepemimpinan umat di Selayar,” tutup Ustadz Supriadi, perwakilan pengurus masjid. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *