Khutbah Kesenian Melalui Gerak Dan Cerita

bukaberita.id, Menonton pertunjukan Teater Masuk Pesantren yang ditulis oleh Nurul Inayah dan disutradarai oleh Sukarno Hatta membawa saya kembali pada masa kanak-kanak. Masa-masa di mana standar pengakuan anak usia 10-17 tahun masih mengalami dinamika naik turun atau yang biasa kita kenal dengan sebutan labil.

Teater yang diberi judul “Ceritalah” ini disajikan cukup unik. Menonton pertunjukan ini seolah-olah menyaksikan khotbah yang dibungkus melalui kesenian. Sebuah cara unik dalam mengedukasi anak-anak atas tindakan yang tidak semestinya mereka lakukan.

Saat menyaksikan teater Ceritalah ini, mulanya penonton akan menyaksikan berita-berita tentang kekerasan yang terjadi pada lingkungan pesantren. Kita melihat berita tentang bullying antar sesama santri, berita tentang dampak bullying kepada korban dan kasus-kasus kekerasan lainnya yang hampir semuanya terjadi di lingkungan pesantren itu sendiri. Efek visual pada pembuka adegan menambah daya tarik penyajian dalam pertunjukan teater. Namun, akan lebih menarik lagi jika pertunjukan ini kita saksikan dalam ruangan yang lebih tertutup agar cahaya luar tidak terlalu mendominasi. Atau jika memanfaatkan ruang yang ada, sebaiknya mengganti waktu pelaksanaan ke malam hari.

Dalam sebuah pertunjukan, pencahayaan sangat mendukung suasana saat menonton.
Memasuki babak selanjutnya, Teater Ceritalah mengisahkan tentang kerisauan ustazah atas maraknya kasus perundungan yang terjadi di pesantren. Alasan tersebut menjadi cikal bakal poin pertunjukan teater ini. Dalam teater, ustazah dan pimpinan pondok pesantren mendiskusikan solusi atas masalah santri yang mereka hadapi. Lalu akhirnya mereka menemukan cara agar para santri bisa menceritakan kerisauan yang selama ini mereka alami tanpa gangguan pihak manapun melalui ruangan dan kotak cerita. Mereka menamakan ruangan tersebut sebagai Ruang Cerita.

Cara sutradara mengatur alur cerita dengan baik menjadikan teater ini mengalir dan mudah dipahami untuk kalangan penonton usia sekolah. Konflik yang diperlihatkan oleh sutradara teater juga sangat kuat sehingga mampu menyentuh hati para penonton.

Ada hal yang menarik perhatian saya saat menonton Teater Ceritalah, kedua aktor masing-masing berhasil memainkan dua karakter yang berbeda. Beberapa adegan sangat emosional, apalagi saat adegan santri yang mencurahkan isi hatinya karena menjadi korban bullying. Kedua aktor sangat mendalami peran secara alami. Hal tersebut terlihat dari ekspresi, gestur tubuh, dan intonasi saat menyampaikan dialog. Akan tetapi ada hal yang sedikit mengganggu saya dalam penggunaan bahasa. Para aktor kadang menggunakan bahasa Indonesia baku lalu perlahan-lahan berubah menjadi bahasa Indonesia dialek Makassar. Barangkali hal tersebut adalah skenario sutradara, namun menggunakan bahasa Indonesia dialek Makassar sebaiknya dipertahankan untuk menambah suasana pesantren di Sulawesi Selatan yang pada umumnya berdialek demikian.

Selanjutnya, jika kita mengamati dengan cermat dialog saat adegan santri yang menceritakan dirinya sering diejek dengan sebutan “Tol atau Jalan Tol” barangkali bisa kita sesuaikan ejekan tersebut dengan konteks kedaerahan. Apalagi melihat pelaksanaan Teater Masuk Pesantren di tiga kabupetan yang sama sekali tidak punya jalan tol. Penonton teater akan sulit mengimajinasikan jalan tol yang belum pernah mereka lihat.

Menonton pertunjukan teater erat kaitannya dengan mengamati properti panggung yang digunakan. Properti panggung tentu saja menyesuaikan adegan pertunjukan. Teater Masuk Pesantren ini bisa dikatakan tepat dalam pemilihan properti. Tata panggung cukup sederhana, pemilihan properti yang minimalis membuat penonton lebih fokus kepada pertunjukan. Pemilihan musik juga dalam teater tersebut mendukung jalannya pertunjukan. Musik yang dipilih tidak mengganggu dialog aktor sehingga penonton bisa dengan jelas menangkap percakapan para aktor. Semua elemen saling menunjang jalannya pertunjukan teater.

Secara keseluruhan, teater Ceritalah adalah pertunjukan yang mengangkat isu penting dengan eksekusi yang baik. Penyutradaraan berhasil membawa kita masuk dalam alur cerita. Akting para aktor berhasil memperlihatkan kepada para penonton tentang bahaya bullying di kalangan para santri. Keresahan yang terjadi di kalangan para santri berhasil dikampanyekan melalui pertunjukan. Kotak saran dan ruang cerita bisa menjadi alternatif dalam membangun hubungan santri dengan para tenaga pengajar di lingkungan pesantren. Mengatasi bentuk penyimpangan bullying harus dilakukan dengan cara-cara yang lebih kreatif. Peran orang tua, tenaga pengajar, masyarakat umum, dan pemerintahan harus bersama-sama meningkatkan penanganan terhadap masalah yang satu ini. Kita tidak bisa mengabaikan peningkatan kasus perundungan yang terjadi ruang-ruang belajar.

Melalui kesenian, teater ini memberikan pesan moral yang mendalam tentang bahaya perundungan dan pentingnya empati dalam kehidupan para santri. Menceritakan keluh kesah yang dialami individu bisa mengurangi dampak depresi. Lingkungan hari ini harus kita desain menjadi lingkungan yang ramah dan bebas dari perundungan. Bahaya bullying di kalangan anak sekolah perlu diedukasi melalui peran orang tua. Faktor pendukung lainnya seperti lingkungan juga harus mengambil bagian mengatasi persoalan ini. Kasus perundungan yang kian hari kian tidak terbendung harus kita atasi dengan menumbuhkan kesadaran massal akan keberagaman. Kesadaran akan lahir dari cara manusia memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Menghentikan laju bullying harus dengan narasi dan tindakan.

Barangkali jika pertunjukan teater Ceritalah ini ditampilkan kembali, maka skenario pertunjukan harus lebih memperdalam dialog adegan korban perundungan dan memperhatikan waktu pelaksanaan. Namun, bisa kita simpulkan bahwa Teater Masuk Pesantren dengan judul Ceritalah patut kita hargai sebagai sebuah pertunjukan yang memperjuangkan hak kemanusiaan yakni hak kesetaraan dan perlindungan. Rasa aman dan nyaman wajib kita miliki sebagai manusia.

Writer: Rahmat Kaizar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *