Headline Indeks Nusantara Pemerintahan

Jokowi: Sebelum Disodori Teh, Saya Sarapan Angka

Presiden Jokowi/Net

JAKARTA, BUKABERITA – Sambil menggerak-gerakkan tangan ke atas, tak hanya sekali, tapi berkali-kali, Presiden Jokowi kembali mengutarakan optimismenya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IInanti, bisa tumbuh 7 persen.

“Saya ini ekonom, saya tahu angka-angkanya,” Jokowi meyakinkan para pemimpin redaksi media cetak, online, TV dan radio, yang kemarin, diajak berdiskusi di Istana Negara, Jakarta.

Di depan dan belakang Jokowi duduk, ada TV led besar, berwarna hitam yang entah apa merknya. Deretan angka-angka, grafik berwarna-warni ditampilkan. Mudah dibaca. Mudah dimengerti. Ada garis naik tajam, ada garis menurun drastis, ada garis datar. Ada garis yang naik turunnya landai-landai saja.

“Ini terbesar se-ASEAN,” ucap Jokowi menunjuk angka 55,3 Purchasing Manager Index atau PMI per Mei 2021.

“Itu yang warna kuning,” Jokowi mengarahkan para pemimpin redaksi untuk melihat angka tersebut, dengan penuh bangga.

Lewat PMI yang diakuinya tertinggi dalam sejarah ini, menunjukkan ada peningkatan pembelian barang yang terjadi di masyarakat. Jokowi memberi contoh penjualan otomotif yang luar biasa tingginya.

“Karena pemerintah memberlakuan stimulus Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM),” Jokowi menyampaikan salah satu pemicunya.

Selain PMI yang naik, Jokowi menyebut beberapa indikator lain yang menambah keyakinannya, ekonomi bisa tumbuh 7 persen. Di antaranya, indeks keyakinan konsumen naik, pertumbuhan belanja nasional juga naik.

“Yakin Pak, bisa 7 persen? Karena ada beberapa pihak yang meragukan target itu?” Menjawab pertanyaan itu, Jokowi langsung duduk tegap. Kaki yang tadinya melipat, langsung sikap sempurna. “Saya yakin, target ini tercapai. Bagaimana caranya? Ini tugas kita bersama,” kata Jokowi yang melepas masker sebelum mendekat ke mic.

Jokowi terlihat pede alias percaya diri sekali saat bicara itu. Bukan tanpa alasan, Jokowi menunjukkan sikap itu. Karena setiap hari, sebelum melakukan aktifitas apapun, Jokowi sudah membaca data-datanya secara teliti, cermat dan akurat.

“Saya ini, tiap hari sarapannya angka-angka ini, sebelum teh disodorin ke saya, angka-angka ini yang disodorkan ke saya,” Jokowi bercerita kesehariannya bergelut dengan data-data ekonomi, sambil tersenyum kecil.

Dan, tak cukup baca angka-angka itu, Jokowi mengaku rajin mengkonfirmasi ke pihak-pihak terkait. Bank Indonesia (BI) diajak diskusi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diajak ngobrol, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) diajak bincang-bincang. Tak lupa juga, dengan Menteri Keuangan.

Hanya soal ekonomi yang akan tumbuh 7 persen yang bikin Jokowi semringah? Banyak isu lainnya yang membuat Jokowi tersenyum lebar. Tapi, tak bisa ditulis di sini. Misalnya, ada soal bosen ditanya soal isu presiden 3 periode, ada warning ke menteri parpol agar terus mengutamakan pekerjaan di banding urusan copras-capres atau pilkada, ada soal kepastian dana haji yang tak dipakai untuk proyek infrastruktur, ada juga soal ke mana Letjen Doni Monardo setelah tak lagi menjabat Kepala BNPB.

Soal pandemi Corona? Isu ini yang paling duluan disampaikan Jokowi. Sambil menunjuk layar TV, Jokowi mewanti-wanti jangan sampai yang dialami India, juga di negara tetangga, terjadi di sini. “Hati-hati,” Jokowi mengulang berkali-kali kata-kata itu, dengan wajah sangat serius. Namun, wajahnya kembali berseri-seri meski nampak memerah karena suasana di ruangan begitu panas. “PPKM Mikro benar-benar efektif,” katanya.

Airlangga Pede Ekonomi 8 Persen

Seperti Presiden Jokowi, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto punya keyakinan besar ekonomi di kuartal II akan tumbuh positif.

“Antara 7 sampai 8 persen,” kata Airlangga.

Pernyataan itu disampaikannya Airlangga saat konferensi pers virtual dari Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Ketua Umum Golkar itu menyebut selain PMI yang membaik, bangkitnya penjualan otomotif, faktor penopang pemulihan ekonomi lainnya adalah Indeks keyakinan konsumen juga tembus 100 persen, pertumbuhan belanja nasional per akhir April terjadi kenaikan sebesar 60,43 persen.

Selain itu, realisasi anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sudah mencapai 29,9 persen dari pagu Rp 699,43 triliun atau Rp 86,7 triliun dari kuartal I yang mencapai Rp 123,26 triliun. Untuk sektor kesehatan sudah terealisasi 18,8 persen. Sedangkan perlindungan sosial sebesar 39,2 persen.

“Kemudian program prioritas 28 persen. Dukungan korporasi 21 persen, dan insentif untuk usaha sudah 79,9 persen,” rinci Airlangga.

Bagaimana tanggapan DPR? Anggota Komisi XI DPR, Willy Aditya menilai, keyakinan presiden soal pertumbuhan di kuartal II bisa terwujud. Terlebih, pemerintah terus memacu lewat berbagai paket kebijakan ekonomi. Seperti kredit perbankan, konsumsi, fasilitas keuangan untuk UMKM, dan gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Kalau 6-7 persen itu berbasis data ekonomi,” ujarnya, saat dihubungi tadi malam.

Anggota Komisi XI DPR, Hendrawan Supratikno mengatakan, jika dibandingkan dengan kuartal II-2020, pertumbuhan di kuartal II-2021 sekitar 6,5-7,3 persen. Hal itu dikarenakan kuartal II-2020 mengalami kontraksi cukup dalam, yakni minus 5,32 persen. “Jadi efek netonya sekitar 1,5-2 persen,” paparnya.

Diakui kader banteng ini, kecenderungan ekonomi sudah dalam tren perbaikan. Tinggal dipertahankan, salah satunya melalui vaksinasi. Mengingat, vaksinasi dan bansos yang efektif bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengamini, indeks kepercayaan konsumen mulai pulih. Namun pemulihan itu tidak cenderung merata di semua segmen. Kelas menengah atas memang berbelanja. Sayangnya, terjadi pengalihan pengalihan investasi dari deposito ke pasar saham, reksadana, bahkan tidak sedikit yang berinvestasi di aset kripto. [*]

sumber: rm.id

 

 

BERITA TERKAIT